Diskusi Film Horor, Ternyata Seru... Pastinya Ada Pesan Positif Yang Ingin Disampaikan.

210 Views



Perlunya Festival Film Horor
Hadir di Indonesia Sebagai Pesan Di Akhir Diskusi.



 



Kali pertama saya sebagai blogger
TDB (taudariblogger.info) di undang di diskusi santai bersama KJSI (Kumpulan
Jurnalis Sinema Indonesia) yang di gawangi Kicky Herlambang sebagai Ketua
Panitia.



Meskipun baru malam harinya saya
mendapatkan pesan undangan tersebut sehingga saya harus membatalkan acara
blogger lainnya pada saat waktu bersamaan. Memang komitmen harus tetap kita
jaga sejak dua bulan lalu ingin acara ini terwujud dan saya juga penasaran
sekali.



Acara diskusi film horor ini
diselenggarakan di Theater Museum Manggala Wanabhakti, Kementerian Lingkungan
Hidup Dan Kehutanan pada hari Kamis (22/8) lalu. Acara diskusi menarik bertema "Menjadikan
Film Horor Sebagai Tontonan Menghibur dan Tuntutan Selera"




Diskusi santai dengan
pembicara, Ody Mulya Hidayat, Muhammad Bagiono (Ketua Umum PAFINDO), dan
Pramu Risanto (Pemerhati Sosial), yang di gawangi moderator, wartawan senior
Teguh Yuswanto, di hadiri sederet artis film ; Rency Milano, Roni Dozer,
Caitlin North Lewis serta Azzura Pinkan – yang juga bertindak sebagai pembawa
acara – dan spritual ustad Astari.



Meskipun saya tidak begitu sering
menonton film horor akan tetapi beberapa kali dan terakhir menonton film horor
berjudul Pesugihan dan Ghost Writer. Mungkin saya harus pahami pengertian film
horor terlebih dahulu agar lebih mengenal dekat.



Film
horor adalah film yang berusaha untuk
memancing emosi berupa ketakutan dan
rasa ngeri dari penontonnya. Alur cerita mereka sering
melibatkan tema-tema kematian, supranatural, atau penyakit
mental. Banyak cerita film horor yang berpusat pada sebuah
tokoh antagonis tertentu yang jahat. Seperti halnya yang di
sampaikan Teguh Yuswanto pada awal diskusi dimulai.



Polemik menyoal genre horor masih
sering menjadi perbincangan menarik di masyarakat, terlebih di jagat sosial
media, yang rajin menyampaikan pendapat dan kritiknya. Namun pada kesempatan
diskusi ini yang berlangsung sekitar 3 jam, banyak hal yang di kupas terkait
industri film horor.

Acara yang awalnya diprakasai
Kicky Herlambang, ketua Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia itu, juga
mengungkapkan seputar hasrat para produser dan peserta yang hadir, bahwa
saatnya Indonesia memiliki wadah sendiri sebagai ruang apresiasi film horor
seperti keinginan para pembicara untuk membuat festival film horor.



Maklum film horor Indonesia masih
miskin prestasi di panggung festival, apalagi jika menyebut Festival Film
Indonesia, bisa di sebut tampilnya film horor hanya sebagai pelengkap kuota saja.



 “Masih banyak pandangan yang
meng-anggap film horor hanyalah tontonan rendahan. Bahkan masih banyak orang
yang berpendapat bahwa hampir banyak film-film horor nasional  masih
berkutat dengan bumbu seks, tapi itu dulu yah, belakangan ini saya perhatikan
nyaris gak ada lagi yang jenis begitu (seks),”
ujar Muhammad Bagiono.



 “Film horor nasional saat ini
justru lebih serius di garap bahkan juga ada beberapa judul film horor yang
sukses komersil di psaran dan tayang sampai ke negara tetangga,”
sambungnya



Bagiono juga menambahkan bahwa
saatnya film horor Indonesia banyak bicara di layar bioskop, saatnya kita punya
festival film horor sendiri, jadi filmmaker dan sineas gak perlu susah payah
untuk memboyong film horor bikinan sendiri ke festival di luar negeri’



Eksekutif Produser Max Pictures
Ody Mulya Hidayat, mengatakan film horor memiliki peran penting dalam showbiz.



“Kekhawatiran publik tentang
kualitas film horor kita saat ini juga mengurang, ini terbukti dari banyaknya
penonton film horor Indonesia yang berduyun dutun mendatangi bioskop.
Prinsipnya jika di garap serius dan komersil kan bioskop juga untung, ya ga?”



“Mau seperti apapun film horor
adalah karya seni yang memiliki tugas menghibur penonton. Jadi hanya film horor
yang memang punya daya tarik seperti ini,”



Bisa anda buktikan, akan berbeda
rasanya ketika anda menonton film genre horor dibanding komedia, drama atau
aksi.



“Pasalnya banyak elemen visual
juga cerita yang mengharuskan melibatkan emosional penonton. Semisal ‘rasa’ ini
penting bagaimana menyeret penonton kedalam visual. keterlibatan emosional
penonton saat nonton film horor adalah ‘goals’ nya. Dan pembuat film tersbeut
juga harus jeli melihat unsur ini,”
paparnya.



“Dan saya kira selera
masyarakat saat ini juga masih menggemari film horor, buatan siapapun dan jenis
cerita apapun. Pastinya masyarakat masih menyukai hingga kini,”
yakinnya.



Sementara Pramu Risanto
menambahkan, "Tidak ada yang salah dalam film horor, kan memang di buat
demi menghibur penonton."



“Sudah sejak dulu film horor
yang tugasnya nakutin penonton , dan itu lah unsur entertaining-nya”



“Dan saya perhatikan, beberapa
tahun belakangan film horor nasional sudah memperlihatkan kualitasnya”



“Artinya banyak studio (rumah
produksi) yang sadar diri untuk membuat karya seni bermutu, dan banyak kok
sekarang film hroro Indonesia yang di kemas dengan serius dan menghibur. Nah
jadi, kita juga harus akui banyaknya masyarakat yang menggemari genre jenis ini
juga satu adalah bukti jika film horor bukan sekedar film yang memang harus
menghibur penontonnya, tapi juga selera masyarakat."




Pada penutupan acara diskusi yang
di dukung Max Pictures, Bag Pictures, Scream Films, Golwind Entertainment,
Pafindo , Surya Films dan Gambino Coffee, ini para pembicara dan moderator untuk menyertakan para tetamu yang
juga di hadiri blogger, akademis dan kalangan profesional.



Kita semua
mendukung Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia (KJSI) membuat sebuah
perhelatan akbar festival film horor pertama di tanah air di tahun 2020. Yuk..
Kita nantikan dan dukung terus Film Horor Indonesia menjadi tuan rumah di
negerinya sendiri. (Sob-TDB)



Comments

Signin Signup